Mamaku Tersayang

Persis setahun lalu, Oktober 2014, kabar mengejutkan datang dari keluarga di Bandung dan mengabarkan bahwa Mamaku ditemukan tergeletak di lantai dan mengalami patah bonggol tulang panggul kiri. Kepanikanku bertambah karena aku belum bisa segera ke Bandung. Jadi hanya bisa memantau lewat telepon. Kakak, adik, semua ipar2-iparku merawat mama dengan 200% kasih sayangnya.

Seminggu setelah kejadian, barulah aku bisa menjenguk mama. Mama nampak tak berdaya didampingi seorang perawat yang handal. Sedangkan papa nampak lebih terpukul menemani mama. Ya Allah, sayangi dan lindungilah mereka selalu… . Hanya air mata yang tertahan yang bisa kupersembahkan. Mama terlihat tegar dalam keadaan sakitnya. Tapi papa berkali-kali terlihat menangis ketika berada di dalam kamar dan berkali-kali pula mengusap air mata di pipinya. Sungguh ini satu titik terendah yang mereka alami.

Setelah kembali ke Jogja dengan sejuta perasaan yang tak menentu, kabar yang tak kalah mengejutkan kembali datang. Tingkat keparahan cidera mama ternyata mengharuskan mama menjalani operasi penyambungan, atau kita semua memilih untuk menerima keadaan mama dalam keadaan bedrest selama 2 bulan atau lebih.

Setiap hari kami sekeluarga besar memantapkan hati dan pilihan yang tak mudah, mengingat tingkat resiko operasi di usia yang ke-83. Sejumlah pengalaman beberapa teman yang orangtuanya mengalami cedera serupa, menjadi bahan pertimbangan kami, sekaligus menambah kekhawatiran kami. Demikian pula informasi dari teman-teman dokter, menambah kemantapan kami. Doa terbaik kupanjatkan untuk kesembuhan mama.

Tibalah waktunya ketika mama akan menjalani operasi, Malam sebelumnya aku masih dalam perjalanan ke Bandung dan setibanya di stasiun Bandung, ku bergegas menuju RS Borromeus tempat mama dirawat. Berharap masih bisa menemui mama sebelum masuk ke ruang operasi.

Sesampainya di RS, kulihat papa berada di luar kamar…nampak bingung. Kuhampiri dan kupeluk…sambil kubertanya bagaimana mama. Ternyata operasi belum bisa dilakukan karena ada satu jenis obat yang harus dihentikan minimal 3 hari sebelum operasi. Kulihat adik, kakak, dan ipar-iparku ada di sana semua. Ada yang janggal karena mama terlihat bukan seperti mama yang tegar, tetapi ini mama yang ketakutan luar biasa sehingga berdampak kehilangan daya ingat mengenai hal-hal yang belum lama terjadi pada dirinya.

Mama sangat gelisah dan berkali-kali mengajak kami pulang ke rumah. Betapa terpukulnya kami dengan keadaan mama yang tidak lagi mengenali lingkungannya. Mama selalu bertanya ” Kapan kita pulang? Kenapa banyak sekali orang di sini dan kenapa kita ada di dalam hutan?”. Mama nampak sangat tidak senang dengan keadaan ini.

Ketika lewat 3 hari, mama disiapkan kembali untuk operasi, dan diperiksa kembali keadaan jantungnya. Matur nuwun Gusti, aku diberi kesempatan untuk merawat mama meski hanya sebentar. Ketika berada di ruang pemeriksaan jantung, mama kulihat mulutnya tak henti berdoa…sambil sesekali minta dicium. Alhamdulillah jantung mama dinyatakan sehat dan layak untuk melanjutkan operasi.

Internist dan Ortopedist pun senang karena itu berarti saat yang ditunggu telah tiba, yaitu operasi menyambung tulang yang retak. Penantian itu begitu terasa lama, dan harapan melihat mama bisa berjalan lagi memompa semangat kami untuk saling menguatkan. Tapi….apa yang terjadi kemudian? Suatu pagi mama mengeluarkan darah yang cukup banyak dari anusnya dan menyebabkan kepanikan baik perawat, dokter, maupun kami keluarganya. Keadaan ini menyebabkan mama semakin kehilangan daya ingatnya, semakin bicara yang tidak karuan, dan mengharuskan untuk menerima darah segar 2 kantong.  Keadaan ini disebabkan oleh radang usus yang parah. Dan dokter mengetahuinya melalui pemeriksaan dalam. Ya Allah….sembuhkanlah mamaku…

Papa setiap hari setia menemani mama di RS sambil terkantuk dan tertidur…tak begitu paham bagaimana kondisi mama saat itu. Sejumlah kerabat dan sahabat berdatangan untuk memberi semangat dan doa kepada mama dan papa. Anehnya, ketika sahabat dan kerabat datang, mama seperti tersadar dan ingat akan mereka. Tetapi setelah mereka pulang, kembali mama seakan ‘menolak ingat’ akan hal buruk yang terjadi padanya. Beberapa malam tak kubiarkan mama tanpaku disisinya sambil terus berdoa. Memeriksa apakah kondisi gula darahnya stabil, apakah mama bisa tidur dengan nyenyak. Mama terus menerus gelisah dan ingin pulang ke rumah. Ada 2 malam berturut-turut mama tidak bisa tidur dan itu menyebabkan keletihan yang amat sangat.

Tanpa terasa sudah 2 minggu aku meninggalkan anak-anakku di Bandung. Betapa rindunya aku pada Tara si bungsu yang masih sekolah kelas 2 SD. Setiap hari setidaknya 3 kali aku bicara padanya lewat telepon atau berkirim gambar, sekedar meluapkan rasa kangenku. Ya Allah, ijinkan aku merawat mama sampai sembuh, dan besarkan hati papa untuk mendampingi mama…..besarkan pula hati anak-anakku untuk ijinkan aku berada di Bandung untuk waktu yang lama. Si sulung Gagad menyusulku untuk menjenguk eyang utinya dan memberiku tambahan energi untuk bertahan di Bandung.

Keadaan tidaklah berjalan seperti yang dibayangkan semula. Kondisi gula darah mama sangatlah tidak stabil. Pemasangan alat otomatis untuk insulin menyebabkan kondisi gula darah mama bisa mendadak turun sampai di angka 30an (normal 100-140), atau mendadak naik di atas 300. Keadaan seperti ini membuat suster lari terbirit2 untuk mengatasi masalah ini. Internist pun tak kalah paniknya, sehingga setiap subuh dr. Handoko sudah berada di kamar mama untuk memastikan kondisi mama bisa stabil. Karena kalau tidak beranjak stabil, maka operasi pun bakal tertunda.

Memasuki minggu ke-3…keadaan semakin tak pasti. Keadaan mama membaik, kecuali daya ingatnya yang belum pulih. Internist mengusulkan untuk cek ulang kondisi umum sebelum dilangsungkan operasi (yang tertunda). Dokter anestesi ternyata belum mengijinkan mama diambil tindakan karena angka Kaliumnya meskipun normal, tetapi untuk kondisi mama masih belum dianggap cukup.

Kemudian dr.Handoko berinisiatif menaikkan kalium melalui infus agar lebih cepat. Namun apa yang terjadi? Diduga mama alergi, bibir mama bengkak!!! Infuspun dilepas dan diusahakan menaikkan kalium melalui obat oral. Berhari-hari tak nampak kenaikan yang signifikan. Ya Allah….rencanamu adalah yang terbaik, kuikuti saja jalanmu.

Di satu sisi, dalam hitungan hari aku harus kembali ke Jogja untuk menerima teman-teman semasa kuliah yang sudah setahun direncanakan. Di sisi lain aku tak akan tega meninggalkan mama dalam keadaan seperti itu. Kubisikkan pada mama “Ma…aku pulang dulu ya ke Jogja melihat anak-anak. Nanti kalau mama mau operasi, aku datang lagi”. Mama dan Papa ijinkan aku pulang dulu. Maka dengan berat hati kulangkahkan kakiku di hari ke-21 mama dirawat di RS…untuk kembali ke Jogja.

Dini harinya, sampailah aku di rumah dengan rasa yang bercampur aduk. Segera kucium dan kupeluk si bungsu yang masih terlelap. Maafkan mama ya sudah meninggalkanmu sekian lama. Sungguh besar hatimu untuk bisa menerima keadaan ini. Jam 7 pagi aku mendapat pesan singkat dari keluarga di Bandung yang mengatakan bahwa mama besok akan siap menjalani operasi karena kaliumnya sudah memenuhi syarat anestesi. Ya Allah, aku segera bersiap untuk mencari tiket ke Bandung. Sebelum berangkat, ada pesan singkat lagi yang kudapat dari Bandung, mengabarkan bahwa mama tidak perlu menjalani operasi karena setelah dironsen ulang, kondisi tulang mama sudah membaik dengan sendirinya. Hanya perlu bedrest 1 bulan lagi dan bisa pulang ke rumah. Alhamdulillah…… . Rupanya inilah jawaban penantian kami selama ini. Matur sembah nuwun, Gusti Allah….

Sekarang, setahun sudah berlalu…..mamaku sudah bisa berjalan lagi. Mamaku sudah kembali seperti dulu dengan bantuan tongkat. I love u Mama….

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

facebook??

Sejak bergabung dengan facebook pada tahun 2008, aku masih menjadi teman setianya. Alasan pertama dulu ikutan dengan jejaring sosial yang berlambang huruf f berwarna biru ini adalah ketika teman-teman SMA ku di Bandung akan mengadakan reuni akbar.

Rasa senang luar biasa bisa melihat kembali wajah-wajah yang sudah 25 tahun terpisah, dan sekarang bisa berkomunikasi lagi. Namanya juga facebook yaa…kita seperti membuka album foto, mendengarkan celotehan teman, berbagi links, dan bisa mengikuti perkembangan kemajuan sahabat.

Kalau diperhatikan memang jadi ada beberapa macam pengguna facebook ini yah? Yang pertama adalah pengguna aktif, baik aktif mengupdate status, aktif upload foto, aktif menulis notes, aktif berbagi links, maupun aktif memberikan komentar pada aktivitas kawan.

Pengguna kedua adalah yang tidak update status, tetapi tetap mengomentari status kawan.

Pengguna ketiga adalah yang tidak update status, tidak mengomentari status kawan. Jadi seperti siluman.

Pengguna keempat itu yang menggunakan situs facebook sebagai ajang berjualan. Sudah tidak asing lagi jejaring sosial yang satu ini masih menempati urutan favorit sebagai lahan berjualan.

Pengguna kelima adalah yang gemar menyebarkan link atas sesuatu yang telah dibacanya, atau dilihatnya….

Nah, pengguna yang manakah Anda? Yang pasti, semua sah2 saja…, tidak ada keharusan begini atau begitu. Enjoy sajalaaah…..

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

setiap malam selalu jadi malam yang indah….

Setiap orang pasti punya kebiasaan-kebiasaan dalam kesehariannya. Begitu pula dengan aku, setiap kali si bungsu Tara mau tidur, meskipun dia sudah tidur di kamarnya sendiri, dia selalu minta untuk ditemani dulu sampai dia terlelap.

Beberapa bulan lalu, eyang Kakungnya Tara di Bandung mengalami sakit yang cukup membutuhkan perhatian. Setahu aku, hubungan eyang Kakung yang notabene ayah kandungku itu, dengan Tara, sangat dekat. Cucu-cucu eyang Kakung sebelum Tara sudah terbilang remaja dan sudah memiliki kesibukan sendiri. Maka Tara lah sebagai cucu paling kecil, yang masih sering digangguin sama eyang Kakungnya. Hubungan Tara dengan eyang Kakung sungguh unik, seperti layaknya sepasang sahabat yang saling membutuhkan. Meskipun terpisah jarak Jogja-Bandung, tapi komunikasi di antara keduanya sangatlah intim.

Ketika eyang Kakung sakit dan Tara tidak berkesempatan untuk menengoknya, setiap malam sebelum tidur Tara selalu menangis dan menanyakan keadaan eyang Kakung, menanyakan perkembangan terakhir beliau. Kata-kata yang selalu ditanyakan Tara adalah “apakah eyang Kakung bisa sembuh, Mah?”. Tentu saja aku mengatakan bahwa eyang Kakung akan baik-baik saja. “Makanya Tara doakan Eyang ya supaya Eyang Kakung    lekas sembuh dan bisa main lagi sama Tara”. Maka berdoalah kami bersama-sama untuk kesembuhan eyang Kakung dan kesehatan kita semua.

Kebiasaan menangis dan menanyakan eyang Kakungnya itu berlangsung berbulan-bulan sampai eyang Kakung benar-benar sembuh belum lama ini. So sweet of you, Tara . Aku pikir kebiasaan ini terus berhenti, karena aku juga tidak ingin melihat Tara ‘mellow’ terus menerus. Namun ternyata kebiasaan ‘mellow’ ini berubah menjadi semacam ‘ritual’ bagi kami berdua untuk selalu minta maaf dan berdoa bersama untuk kita semua. Tara sembari memeluk dan mencium aku selalu mengatakan “Maafkan Tara ya Mah…Tara belum bisa bikin Mamah bahagia”. Hiks…air mata siapa yang nggak meléléh setiap kali mendengarkan kata-kata seperti itu? Oh no, Tara, justru kamulah kebahagiaan aku…keluarga yang menyenangkan itulah kebahagiaan aku…, ya Tara, mas Gagad, juga papah.

Entah mengapa, aku jadi larut dan menikmati ritual malam ini, karena saat seperti ini menurut aku adalah saat dimana Tara betul-betul menampakkan keasliannya….yang terkadang juga rapuh dan lembut. Padahal dalam kesehariannya, Tara adalah anak yang periang, macho, menyukai aktivitas sport, dan galak…

Entah mengapa pula, aku sangat merindukan setiap malam hari…setiap malam yang penuh kasih….

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

45

Heheh….tahun ini umurku bertambah lagi menjadi 45. Sungguh aneh…. Rasanya cukup takjub dengan besarnya angka itu, sekaligus bersyukur karena aku merasa banyak diberi kenikmatan, kebahagiaan, dan kasih sayang dari orang-orang tercinta.

Seperti hari-hari biasanya, pagi di hari ulang tahunku itu tidak ada yang istimewa. Malam sebelumnya kami sekeluarga , suami dan anak-anak tercinta, sudah menghabiskan makan malam yang  nikmat bersama. Kemudian satu per satu ‘notification’ via sms, facebook, twitter, e-mail, dan telepon mulai masuk. Anakku Kidung Jagad Wening sudah kirim ucapan via twitter, dengan ucapan manis dan mengharukan, disambut ucapan lucu dari teman-temannya.

Begitu juga dengan Tara Sahasya. Hari itu aku buatkan bekal nasi kuning ke sekolah, dan menjadi pertanyaan bagi guru-gurunya mengenai bekal spesial itu. Dan ketika aku jemput dia di sekolah, guru dan teman-temannya secara khusus menunggu aku dan memberi ucapan yang khas dan lucu.

Belum cukup dengan itu, sesampainya di rumah, sudah ada mobil parkir di depan pagar. Sepertinya aku kenal deh dengan mobil itu. Ternyata betul saja…seorang sahabat beserta keluarganya sudah menanti kedatanganku untuk memberikan kejutan. Heheh…seumur-umur belum pernah tuh dikasih kejutan seperti ini…lengkap dengan kue ulang tahun yang cantik dan lezat. Jadilah kita berkumpul sambil menikmati kue istimewa itu.

Masih dalam suasana kejutan itu, datang lagi seorang sahabat, juga dengan keluarganya ikut memeriahkan kumpul-kumpul siang itu…tanpa direncanakan sebelumnya. Suasana tambah meriah, intim, hangat, dan menyenangkan. Sederhana di dalam kebersamaan.

Sekali lagi rasa syukur aku panjatkan di tambahnya usiaku ini, semoga tetap bisa memberikan rasa hangat untuk orang-orang tercintaku…

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | Meninggalkan komentar

Ngecor yuuuk?

Whew….baru kali ini aku jadi mandor bangunan nih….biasanya urusan begini kerjaan suami sih….tapi berhubung doi sangat sibuk, maka tugas mandorin tukang jadi bagianku. Stress juga ya ternyata pingin bikin kamar seuprit, tapi banyak maunya….alhasil jadi bingung dan repot sendiri 😀

Ceritanya mau nambah kamar nih….dengan konsep apartemen studio.., dan bertingkat pula. Salah satu proses untuk membuat lantai bangunan bertingkat adalah dengan cara ngecor. Memang sih sebelum disetujui buat ngecor, pak tukang sudah bilang bahwa untuk ngecor ini perlu “perhatian” khusus, artinya dianggap “luar biasa” baik dari segi cara pengerjaannya, jumlah tenaga pekerjanya, maupun waktu pengerjaannya. Waktu denger penjelasan itu sih aku cuman manggut-manggut aja….*sambil nggak begitu ngeh sih sebenernya apa yang dimaksud dengan “luar biasa” itu*.

Naaah….beberapa sebelum ngecor nih, pak tukang datang menghadap, menjelaskan detailnya mengenai kerja “luar biasa” itu. Heeeh…makin tergagap-gagap aja waktu dia bilang bahwa untuk ngecor (kamar yang seuprit itu) butuh 20 orang tenaga (padahal aku hanya pakai 4 tukang sehari-harinya), kemudian honor kerja yang berlipat-lipat meskipun kerja hanya 4 jam, kemudian lagi suguhannya harus istimewa….nggak seperti biasanya…harus fresh from the oven, gitu lah 🙂

Tadinya aku sempat complain (dalam hati)….”kenapa juga harus berlipat-lipat ya honornya? kenapa harus diberi suguhan istimewa ya? apa nggak bisa dikurangin aja jumlah pekerjanya?” (ngiriiiiiit aja pinginnya). Tapi karena aku udah percaya sama pak tukang yang kebetulan memang tetangga juga, maka acc semua persyaratannya.

Pas harinya ngecor tuh…semua sudah set up….seluruh pekerja sudah datang sejak jam 6 pagi, dengan jamuan teh hangat dan jajanan. Tepat jam 6.30 alat sudah dinyalakan, semua pekerja menempat tempatnya masing2…, da….n….yak….ternyata kerja mereka itu memang luar biasa beratnya. Ada yang bertugas di bawah mengangkut pasir dan batu kecil dan memasukkannya ke dalam mesin, ada yang memasukkan semen. Ada juga yang mengoperasikan alat aduk semen, ada yang tugasnya memasukkan adonan ke dalam ember-ember kecil untuk diranting. Kemudian di atas ada yang tugasnya meratakan cor yang baru saja dituang. Di antara petugas-petugas kunci itu berjajar pekerja yang tugasnya meranting adonan dari bawah sampai ke atas. Ini dia jawabannya kenapa jumlah pekerjanya harus banyak. Dan mereka harus selesai sebelum tengah hari supaya adonan tidak mengeras dan bisa menyatu. Para pekerja itu bekerja non-stop tanpa henti….tanpa makan dan minum….sampai selesai pada tengah hari. Keringet segede-gede biji jagung udah netes-netes….tapi mereka terus kerja….sesekali diselingi guyonan…., padahal cuacanya puwanaaaaas sekali….mataharinya mencorong!!!

Benar-benar tanpa henti sampai pekerjaan benar-benar selesai. Aku sekarang bisa bernafas lega setelah semua pekerja itu selesai makan siang…dan pulang ke rumah masing-masing. Benar-benar lega karena semua sesuai seperti yang direncanakan.

Ngecoooor…..oh ngecoooor….!!!

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Cak Komar

Kalau mendengar namanya, pasti semua orang sudah bisa menebak dari mana asal Cak Komar berasal. Ya….pasti asli Madura. Tapi Cak Komar yang satu ini sudah merantau dan menetap di Sleman lebih dari 8 tahun .

Perkenalanku pada Cak Komar dan istrinya sekitar satu tahun lalu sewaktu kami akan memesan beberapa besi kolom beserta cakar ayam untuk membangun kamar baru. Awalnya hanya berhubungan selayaknya penjual dan pembeli saja, tapi lama kelamaan ada yang membuat saya tertarik pada keluarga Cak Komar ini. Saya melihat kejujuran yang amat sangat pada keluarga ini, sehingga uang Rp. 10.000,- saja tidak akan dia korupsi. Setiap kali pesanan kami selesai dibuat, kami selalu dipanggil sebelum ditimbang. Intinya, kami harus menyaksikan penimbangan besi kolom itu sebelum dihitung dan dibayar.

Pernah suatu ketika, kami semua sedang teramat sibuk sehingga tidak memungkinkan untuk hadir pada saat penimbangan. Cak Komar selalu mengatakan “Ta’ tunggu sampai sampeyan datang aja baru ta’ timbang”. Waduh….padahal besi kolom itu akan segera dipergunakan untuk membangun??? Kemudian saya membalasnya dengan mengatakan lewat telpon, “Uwis lah Cak, aku udah percaya sampeyan, timbang aja, langsung kirim”. Maksud saya karena hubungan kami dengan Cak Komar sudah terbangun berbulan-bulan, maka balasan telpon dari saya itu seharusnya menjadikan Cak Komar mau mengirim besi kolom tersebut. Tapi apa yang terjadi? Cak Komar tetap saja menunggu kami untuk datang menyaksikan penimbangan besi itu.

Alhasil saya dan suami hanya saling senyum dan mengagumi kejujuran dari Cak Komar sebagai pedagang yang terkadang ‘merepotkan’ kami sebagai pelanggan juga.

Hubungan ini berlanjut menjadi hubungan yang lebih dari sekedar penjual dan pembeli. Karena lokasinya tak jauh dari lokasi sekolah Tara, anak kami, maka saya sering juga mampir untuk sekedar menyapa, sambil menunggu waktu pulang sekolah. Dalam perbincangan yang penuh keakraban, Nyah Komar sempat memiliki keinginan untuk memperluas bidang usaha. Yang terpikir adalah berjualan sate Madura, karena sebelum berkecimpung di dunia jual-beli besi, dia pernah berjualan sate. Wah, hebat juga ya, pagi jualan besi, sore dan malam hari jualan sate. Hmmmm….

Sebelum hari lebaran 2011 kami sempatkan mampir untuk bersilaturahmi dan kembali memesan besi kolom, dan ternyata Nyah Komar sudah mewujudkan keinginannya untuk berjualan sate. Saya bertanya “Jualan di sini Nyah?”….”Ndak”, jawabnya. Dan saya sempat terkejut karena Cak Komar dan Nyah Komar sudah memiliki lahan yang bagus, serta strategis pula. Kenapa tidak? Dengan tersenyum Nyah Komar menjawab “Soalnya ada peraturan ndak tertulis bagi kami orang Madura, dalam jarak radius 1,5 km kalau sudah ada orang Madura jualan sate, kita ndak boleh jualan sate, gitu mbak”. “Ooooh…gitu ya?” jawab saya sambil terheran-heran.

Dalam hati saya mengagumi betapa konsep berjualan seperti itu sungguh dipatuhi oleh kalangan perantau asli Madura. Tidak seperti konsep berjualan minimarket jaman sekarang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan.

Suatu sore saya sempatkan untuk mencoba sate buatan Nyah Komar dan Cak Komar. Betapa senangnya dia ketika melihat saya datang. Kami bicara panjang lebar seperti ada kerinduan untuk saling curhat. Dan sungguh di luar dugaan saya, selain sejumlah sate yang saya pesan, masih pula dibawakan ekstra sate untuk saya. What? Jadi malu hati, saya atas kebeningan hati keluarga Cak Komar ini. Ketika saya membayar lebih pun, mereka betul-betul tidak berkenan menerimanya. Saya sungguh terharu masih ada orang-orang sebaik Cak Komar dan Nyah Komar ini….entah hatinya terbuat dari apa…pasti bening sekali.

Saya menghargai sekali budi baik Cak Komar dan Nyah Komar….karena kami sering mendapat perlakuan istimewa dari mereka. Bahkan pesanan dari ‘pejabat kabupaten’ saja mampu mengalahkan pesanan dari seorang ‘saya’….kalau kami butuh pesanan yang segera, maka meskipun bahan-bahan yang sekiranya akan digunakan dan telah dipesan untuk orang lain, Cak Komar langsung ambil inisiatif untuk mendahulukan pesanan kami. Meskipun kami merasa sungkan karena Cak Komar mendahulukan kami, tapi Cak Komar hanya bilang bahwa “Sampeyan kan butuh cepet toh, kalau yang lain masih bisa menunggu karena ndak keburu-buru”.

Cak, Nyah….hanya doa saja yang bisa kami berikan untuk kesuksesan usaha kalian yaa….kami janji kalau kamar kami sudah jadi, kami akan undang kalian ke rumah kami ya…

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar